Judul: After-Prohibition, Editor: Timothy Lynch, Bahasa: Inggris, Hal: 193 halaman, Penerbit: Cato Institue, Washington DC, USA, Tahun: 2000, Resensi:
Perang terhadap narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) yang telah puluhan tahun dilakukan di Amerika Serikat ternyata menjadi perang yang panjang dan melelahkan.
Seolah menjadi perang yang tidak pernah usai bahkan bisa dikatakan gagal, karena jargon pemerintah federal Amerika Serikat untuk membebaskan Amerika dari pengaruh NAPZA tidak pernah terwujud. Sebagai catatan pemerintah Amerika pernah mencanangkan “Amerika Bebas NAPZA 1995″ namun hingga saat ini pencanangan tersebut tidak pernah terwujud.
Pencanangan “Amerika Bebas NAPZA 1995″ bukan perkara mudah dan murah, karena konggres Amerika telah mengucurkan dana hingga milyaran dollar Amerika.
Dana yang tidak sedikit ini digunakan oleh pemerintah federal untuk membiayai operasi-operasi anti NAPZA yang dilakukan oleh kepolisian, kejaksaan, pengadilan NAPZA, dan penjara di seluruh negara bagian.
Kendati Jutaan orang ditahan dan jumlah barang sitaan NAPZA yang tak terhitung nilainya namun Amerika tetap tidak bebas dari NAPZA. Bahkan hingga saat ini NAPZA ilegal dengan mudah didapatkan, semudah yang terjadi di masa lalu.
Kebijakan pelarangan NAPZA terbukti menjadi sebuah kegagalan yang mahal. Seperti halnya pelarangan alkohol, pelarangan NAPZA menciptakan lebih banyak permasalahan daripada memperbaiki keadaan.
Perang terhadap NAPZA telah menghancurkan kehidupan penduduk kota, menciptakan penegak hukum yang korup, dan membuat kebijakan luar negeri Amerika menjadi tidak jelas. Tetapi, masih saja pelarangan NAPZA dipandang sebagai strategi jitu oleh para elit politik Amerika.
Kebalikannya, kebijakan NAPZA alternatif – seperti legalisasi NAPZA – berada jauh diluar parameter pembicaraan serius di Washington DC. Tidak seorang pun dapat menjamin bahwa legalisasi NAPZA akan menjadi penyelesaian untuk semua masalah.
Sudah dapat dipastikan bahwa penyalahgunaan NAPZA akan tetap menjadi masalah walaupun kebijakan legalisasi NAPZA diterapkan.
Tetapi kebijakan pelarangan NAPZA adalah sebuah kebijakkan kontra produktif yang memperlakukan rakyat Amerika dengan sangat sedikit rasa hormat. Kebijakan tersebut memperlakukan rakyat Amerika seperti anak-anak.
Inilah saatnya untuk berkompromi dengan masalah penggunaan NAPZA pada orang dewasa dengan cara yang lebih terbuka, jujur dan dewasa. Perang terhadap NAPZA telah diberi kesempatan untuk membuktikan keberhasilannya, tetapi kebijakan tersebut telah gagal dengan sangat menyedihkan.
Buku ini ditulis oleh beberapa praktisi yang sangat berpengalaman di bidangnya. Selain Timothy Lynch ada juga Ted Galen Carpenter (Wakil Presiden untuk Studi Pertahanan dan Kebijakan Luar Negeri, Cato Institute), Steven Duke (Prof Hukum, Yale Univ.), Gary Johnson (Gubernur New Mexico), David Klinger (Prof. Kriminologi, Univ. of Missouri), Michael Levine (Mantan Agen Drug Enforcement Agency), Daniel Lungren (mantan Kepala Departemen Kehakiman – California).
Buku ini cukup layak untuk dibaca dan dimiliki, bahkan sangat layak dijadikan referensi bagi para penegak hukum dan akademisi di Indonesia, mengingat persoalan yang sama juga terjadi di negara kita yang tercinta ini.(YS/Gen)
Tags: Buku
Palo Alto – Kematian Steve Jobs, pendiri dan CEO Apple, telah menyentuh hati masyarakat dunia....
Bogor – Malam beranjak larut ketika NapzaIndonesia.com menemui Samuel Nugraha atau yang lebih akrab dipanggil...
Kuta – Sosok kita bulan ini adalah Arthur Stewart, lelaki asal Bandung yang saat ini...