<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah NAPZA / Narkoba Indonesia - NAPZA Magazine &#187; Humaniora</title>
	<atom:link href="http://www.napzaindonesia.com/category/humaniora/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.napzaindonesia.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 07:14:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Steve Jobs: Menggunakan LSD Adalah Salah Satu Hal Terbaik Yang Pernah Saya Lakukan</title>
		<link>http://www.napzaindonesia.com/steve-jobs-menggunakan-lsd-adalah-salah-satu-hal-terbaik-yang-pernah-saya-lakukan.html</link>
		<comments>http://www.napzaindonesia.com/steve-jobs-menggunakan-lsd-adalah-salah-satu-hal-terbaik-yang-pernah-saya-lakukan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 21:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[LSD]]></category>
		<category><![CDATA[NAPZA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napzaindonesia.com/?p=10713</guid>
		<description><![CDATA[Palo Alto &#8211; Kematian Steve Jobs, pendiri dan CEO Apple, telah menyentuh hati masyarakat dunia. Foto-foto semasa hidup Jobs tersebar luas melalui jutaan produk MacBook, iPad, iPhone, dan produk-produk revolusioner lain yang telah dirancang dan dipasarkan Jobs dengan jenius. Jobs kini disejajarkan dengan Thomas Edison dan Henry Ford. Media mendongkrak kepopuleran Steve Jobs dengan terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_10714" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-10714 " style="margin: 5px" src="http://napzaindonesia.com/wp-content/uploads/2011/10/steve_jobs_150_100.jpg" alt="" width="150" height="100" /><p class="wp-caption-text">Steve Jobs</p></div>
<p></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Palo Alto</strong> &#8211; Kematian Steve Jobs, pendiri dan CEO Apple, telah menyentuh hati masyarakat dunia. Foto-foto semasa hidup Jobs tersebar luas melalui jutaan produk <em>MacBook</em>,<em> iPad</em>,<em> iPhone</em>, dan produk-produk revolusioner lain yang telah dirancang dan dipasarkan Jobs dengan jenius.</p>
<p>Jobs kini disejajarkan dengan Thomas Edison dan Henry Ford. Media mendongkrak kepopuleran Steve Jobs dengan terus menerus mempublikasikan nasehat-nasehat terkenal yang pernah diungkap oleh Steve Jobs selama 40 tahun karirnya yang cemerlang. Salah satu nasehat Jobs yang paling terkenal adalah, &#8220;Waktumu terbatas, jadi jangan pernah kau membuang waktu dengan menjiplak kehidupan orang lain.&#8221;<span id="more-10713"></span></p>
<p>Salah satu pengakuan paling populer yang pernah dinyatakan oleh Jobs adalah kecintaannya pada NAPZA <em>psychedelic</em> LSD. Pernyataan tersebut diungkap dalam buku sejarah populer tentang terbentuknya komputer personal &#8220;<em>What the Dormouse Said: How the Sixties Countercultre Shaped the Personal Computer&#8221;</em> yang ditulis John Markoff, reporter bidang teknologi <em>New York Times</em>. Buku yang ditulis Markoff pada 2005 ini mengutip pengakuan Jobs,&#8221;Menggunakan LSD adalah salah satu dari dua atau tiga hal terpenting yang sudah saya lakukan dalam hidup ini.&#8221;</p>
<p>Bahwa Jobs menggunakan LSD dan merasakan pengaruh berarti LSD dalam menghasilkan pemikiran-pemikiran luar biasa dibidang teknologi komputer, ternyata banyak dialami para jenius komputer lainnya. Menurut Markoff, NAPZA <em>pyschedelic</em> mendorong revolusi komputer dan internet dengan menunjukkan pada masyarakat bahwa hal-hal nyata dapat diubah melalui cara-cara tak biasa, melalui pemikiran yang sangat intuitif.</p>
<p>Pemikiran yang berbeda atau <em>Think Different</em>, slogan Steve Jobs, adalah salah satu pengalaman yang dihasilkan saat menggunakan LSD. &#8220;Ketika saya menggunakan LSD dan mendengarkan sesuatu, itulah ritme yang sesungguhnya. LSD membawa saya ke dunia berbeda, ke sebuah tempat dimana otak saya berhenti berfikir dan mulai memahami,&#8221; ujar Kevin Herbert, pelopor <em>Cisco System</em>, sebuah perusahaan global produsen perangkat keras jaringan internet dan intranet.</p>
<p>Jobs juga mengatakan, bahwa Bill Gates akan dapat melakukan sesuatu yang lebih bila saja ia mau mencoba menggunakan LSD. Sementara Bill Gates dalam sebuah wawancara dengan majalah Playboy pada 1994 tidak menyangkal bahwa ketika remaja ia pernah mencoba-coba memakai LSD.(YS)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.napzaindonesia.com/steve-jobs-menggunakan-lsd-adalah-salah-satu-hal-terbaik-yang-pernah-saya-lakukan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Samuel Nugraha: Kalahkan Adiksi, Pulihkan Martabat Pengguna NAPZA</title>
		<link>http://www.napzaindonesia.com/samuel-nugraha-kalahkan-adiksi-pulihkan-martabat-pengguna-napza.html</link>
		<comments>http://www.napzaindonesia.com/samuel-nugraha-kalahkan-adiksi-pulihkan-martabat-pengguna-napza.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 07:23:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[NAPZA]]></category>
		<category><![CDATA[Pengguna NAPZA]]></category>
		<category><![CDATA[rehabilitasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napzaindonesia.com/?p=7294</guid>
		<description><![CDATA[Bogor &#8211; Malam beranjak larut ketika NapzaIndonesia.com menemui Samuel Nugraha atau yang lebih akrab dipanggil Sam. Sam ditemui di Rumah Singgah PEKA, sebuah rumah rehabilitasi berbasis komunitas yang didirikannya di kota hujan Bogor. Rumah Singgah PEKA adalah rumah rehabilitasi berbasis komunitas yang diinisiasi oleh Sam dan kawan-kawan pada November 2009. Rumah PEKA menerima klien untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_7296" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><strong><img class="size-thumbnail wp-image-7296" src="http://napzaindonesia.com/wp-content/uploads/2011/04/Sam-Nugraha2_150_100-150x100.jpg" alt="" width="150" height="100" /></strong><p class="wp-caption-text">Sam Nugraha</p></div>
<p><strong>Bogor</strong> &#8211; Malam beranjak larut ketika <strong>NapzaIndonesia.com </strong>menemui Samuel Nugraha atau yang lebih akrab dipanggil Sam. Sam ditemui di Rumah Singgah PEKA, sebuah rumah rehabilitasi berbasis komunitas yang didirikannya di kota hujan Bogor.</p>
<p>Rumah Singgah PEKA adalah rumah rehabilitasi berbasis komunitas yang diinisiasi oleh Sam dan kawan-kawan pada November 2009. Rumah PEKA menerima klien untuk menjalani perawatan ketergantungan NAPZA dengan metode Rumah Singgah PEKA adalah rumah rehabilitasi berbasis komunitas yang diinisiasi oleh Sam dan kawan-kawan pada November 2009. <span id="more-7294"></span></p>
<p>Rumah PEKA menerima klien untuk menjalani perawatan ketergantungan NAPZA dengan metode<em> Multi-Disciplinary Model</em>, sebuah program yang menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan menggunakan berbagai komponen yang berkaitan dengan beberapa pendekatan termasuk pengintegrasian hubungan antara klien dan keluarga.</p>
<p>Sam yang saat ini menjabat sebagai Koordinator Nasional Persaudaraan Korban NAPZA Indonesia (PKNI) menceritakan riwayat awal penggunaan NAPZA-nya pada 1994 yang diawali dari memanfaatkan uang saku untuk membeli berbagai jenis NAPZA, dari ganja, shabu, ineks, lsd, kokain, mushroom, pil koplo, dan pada ahirnya NAPZA favorit Sam adalah putaw*.</p>
<p>Dari coba-coba akhirnya dosis kecil dirasa makin tidak mencukupi. Akhirnya Sam menggunakan sampai 2 gram putaw perhari dengan cara dihirup. Uang saku makin tidak berarti untuk memenuhi kebutuhannya. Sam mulai menjual barang-barang pribadinya, jaket kulit kesayangan, sampai komik hasil koleksi sejak masa kecilnya.</p>
<p>Seiring kebutuhan NAPZA yang tidak terbendung lagi, Sam memutuskan menjual motor untuk memodali langkah awalnya sebagai bandar. Ia cukup dikenal di wilayah tempat tinggalnya. Hal itu dilakukannya karena desakan kebutuhan NAPZA yang harganya sangat tinggi di pasar gelap.</p>
<p>Sam kehilangan segalanya, harta benda tak bersisa, dan yang terpenting adalah kepercayaan dari orangtua, sahabat, dan sanak keluarga. Ia mulai befikir untuk menjalani program penanganan adiksi. Langkah awal dimulai dari berobat ke dokter umum. Usaha Sam tak berhasil, badannya terus menerus sakit karena menagih obat.</p>
<p>Sam mencoba berkonsultasi ke psikiater, hingga akhirnya ia justru dirujuk untuk dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Anjuran psikiater itu dituruti olehnya, tapi hanya halusinasi dan fikiran yang tak lepas-lepas memikirkan putaw dituai Sam. Putus asa karena tak kunjung mampu mengalahkan keinginan mengkonsumsi putaw, Sam pernah dua kali berusaha bunuh diri.</p>
<p>Beruntung Sam akhirnya memutuskan untuk menjalani rehabilitasi di sebuah lembaga. Setelah menjalani 6 bulan masa rehabilitasi , kehidupan Sam menjadi lebih stabil. Ia mulai berkarya menjadi seorang pendidik sebaya bagi rekan pecandu lain tanpa digaji. Bagi Sam, hal yang ia lakukan sangat membanggakan karena ia melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain.</p>
<p><strong>Bekerja di Badan PBB</strong></p>
<p>Sam semakin aktif menjalankan aktivitas diantara rekan-rekan pecandu NAPZA dan orang terinfeksi HIV. Ia memprakarsai terbentuknya sebuah kelompok dukungan orangtua yang anaknya terinfeksi HIV. Berdirilah Yayasan PITA. Setelah kegiatan Yayasan PITA rutin berjalan, Sam meninggalkan aktivitas di Yayasan tersebut.</p>
<p>Sam kemudian bertemu dengan salah seorang petinggi the Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) yang menganjurkannya untuk melamar ke lembaga PBB tersebut. Sam sempat menolak karena merasa dirinya hanya lulusan SMA. Tetapi setelah mendapat banyak dukungan akhirnya Sam memberanikan diri melamar. Dari 32 pelamar yang rata-rata lulusan S2, justru Sam yang berhasil mendapatkan posisi sebagai <em>Community Liaison Assistant</em>. Setelah setahun, ia dipromosikan sebagai <em>Partnership and Network Assistant.</em> Sam sempat pula berkarir di <em>United Nations Office on Drugs and Crime</em> (UNODC) sebagai National Program Officer pada 2008.</p>
<p><strong>Kembali ke Komunitas</strong></p>
<p>Selama 5 tahun bekerja di lembaga PBB dengan tujuan berkontribusi pada komunitas terdampak HIV dan NAPZA, Sam melihat kesenjangan antara komunitas, pemerintah dan lembaga internasional. Dan kesenjangan ini belum tertangani dengan baik. Komunitas pengguna NAPZA kerap dijadikan kambing hitam dalam kegagalan sebuah program penanganan HIV, dikaitkan dengan ketidakmampuan mereka bekerja secara profesional.</p>
<p>Dan bila dari komunitas ternyata ada seseorang yang memenuhi kriteria, maka dengan segera ia akan ditarik untuk bekerja pada pemerintah atau lembaga internasional. Komunitas akan selalu kekurangan sumber daya manusia yang mampu untuk membangun komunitas itu sendiri karena daya tarik finansial yang ditawarkan pemerintah atau lembaga internasional.</p>
<p>Sam bercita-cita berbagi ilmu dan informasi untuk mengembangkan kemampuan komunitas pengguna NAPZA untuk bertahan hidup, dengan tidak bergantung pada lembaga-lembaga donor. Peningkatan kualitas hidup pengguna NAPZA seperti kepemilikan asuransi kesehatan, dana pensiun, pendapatan yang layak, pengakuan profesi adalah hal-hal penting yang diperjuangkan Sam bagi komunitas pengguna NAPZA.(emh/YS)</p>
<p>*putaw: heroin kualitas rendah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.napzaindonesia.com/samuel-nugraha-kalahkan-adiksi-pulihkan-martabat-pengguna-napza.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blow</title>
		<link>http://www.napzaindonesia.com/blow.html</link>
		<comments>http://www.napzaindonesia.com/blow.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 06:26:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[ganja]]></category>
		<category><![CDATA[kokain]]></category>
		<category><![CDATA[kolombia]]></category>
		<category><![CDATA[Meksiko]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napzaindonesia.com/?p=5799</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Blow, Sutradara: Ted Demme, Bintang: Johnny Depp, Penelope Cruz, Ray Liotta, Rachel Griffith, Ethan Suplee, Jordi Molla, Produksi: Holywood, 2001. Blow adalah film yang menceritakan perjalanan hidup penyelundup kokain Amerika bernama George Jung (Johnny Depp) dengan mengambil setting kota Boston pada era 1960-an. Selain Johnny Depp film yang disutradarai Ted Demme ini juga dibintangi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5801" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-5801" href="http://napzaindonesia.com/blow.html/film-blow"><img class="size-full wp-image-5801" style="margin: 5px;" title="image: istimewa" src="http://napzaindonesia.com/wp-content/uploads/2011/02/film-blow.jpg" alt="" width="150" height="100" /></a><p class="wp-caption-text">Blow</p></div>
<p style="text-align: left;">Judul: <em><strong>Blow</strong></em>, Sutradara: <strong><em>Ted Demme</em></strong>, Bintang: <em><strong>Johnny Depp, Penelope Cruz, Ray Liotta, Rachel Griffith, Ethan Suplee, Jordi Molla</strong>, </em>Produksi: <strong><em>Holywood, 2001</em></strong>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Blow</em> adalah film yang menceritakan perjalanan hidup penyelundup kokain Amerika bernama George Jung (Johnny Depp) dengan mengambil setting kota Boston pada era 1960-an. <span id="more-5799"></span></p>
<p style="text-align: left;">Selain Johnny Depp film yang disutradarai Ted Demme ini juga dibintangi oleh Pennelope Cruz dan Ray Liotta.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita berawal dari masa kecil George Jung yang dibesarkan dengan nilai-nilai keluarga yang baik oleh orang tua yang bekerja dengan jujur. George kecil harus menghadapi masa-masa sulit ketika sang ayah Fred (Ray Liotta) mengalami kebangkrutan.</p>
<p style="text-align: left;">Sementara sang ibu Ermine (Rachel Griffith) selalu menuntut Fred untuk mendapatkan uang lebih banyak. Hal ini membuat George kecil melihat begitu pentingnya uang dalam hidup kendati sang ayah Fred selalu mengatakan kepada George bahwa uang bukanlah hal yang utama dalam hidup.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika beranjak dewasa, George Jung bersama temannya yang bernama Tuna (Ethan Suplee) pindah ke California Selatan dan memulai bisnis ganja untuk mencukupi kebutuhan mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika usaha bisnis ganja yang dijalankan George dan teman-temannya ini berkembang, George malah tertangkap karena terbukti menyelundupkan 660 pounds atau sekitar 300 kg ganja dari Meksiko ke Amerika dan menjalani hukuman selama 26 bulan di penjara Danbury, Connecticut.</p>
<p style="text-align: left;">Di dalam penjara George berkenalan dengan Diego Delgado (Jordi Molla) yang mempunyai koneksi dengan kartel kokain di Medelin, Kolombia.</p>
<p style="text-align: left;">George pun tertarik berbisnis dan dalam waktu singkat bisnis kokainnya ini pun berkembang dengan sangat pesat. Sayangnya ditengah sukses bisnisnya ini George dikhianati oleh mitra bisnisnya yang membuat George keluar dari bisnis kokain yang telah memberinya kekayaan.</p>
<p style="text-align: left;">Setelah keluar dari bisnis ini George kehilangan semua hartanya dan ditinggalkan oleh istrinya Mirtha (Penelope Cruz) yang membawa putri kesayangannya Kristina Sunshine Jung.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam usaha untuk memenuhi harapannya agar dapat bersama putrinya dan memulai kehidupan baru di California, George bersedia memenuhi permintaan teman-teman lamanya untuk menyelundupkan ganja yang terakhir kalinya.</p>
<p style="text-align: left;">Namun ternyata itu semua adalah jebakan FBI untuk menjerat George Jung yang akhirnya menjalani hukuman selama 60 tahun.</p>
<p style="text-align: left;">Hal yang menarik dari film ini adalah kenyataan yang ditampilkan bahwa penjara telah menjadi tempat penggemblengan bagi para pelaku bisnis narkotika untuk meningkatkan level dan kemampuannya dalam bisnis narkotika.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam film ini Johnny Depp memainkan peran George Jung dengan dramatis sebagai pengusaha narkotika yang tidak identik dengan gangster, namun lebih ke pribadi yang manusiawi dan mencintai keluarganya.</p>
<p style="text-align: left;">Satu hal yang disesalkan George Jung dalam menjalani kehidupannya sebagai pengusaha narkotika bukan karena mengecewakan orang tua terutama ayahnya, ataupun pengkhianatan yang dilakukan teman-teman dan mitra bisnisnya, penyesalan yang terus dirasakan selama menjalani hukuman adalah karena tidak menepati janji kepada putrinya untuk memulai kehidupannya yang baru sebagai seorang ayah.(Rif/Gen)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.napzaindonesia.com/blow.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217;m Dangerous With Love</title>
		<link>http://www.napzaindonesia.com/im-dangerous-with-love.html</link>
		<comments>http://www.napzaindonesia.com/im-dangerous-with-love.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 17:26:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Adiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Detoksifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ibogaine]]></category>
		<category><![CDATA[rehabilitasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napzaindonesia.com/?p=5251</guid>
		<description><![CDATA[Judul : I&#8217;m Dangerous With Love Jenis : Dokumenter Durasi : 85 menit Sutradara : Michel Negroponte Produksi : Blackbridge Production &#8211; Cactus Three Resensi: I&#8217;m Dangerous With Love bercerita tentang kecanduan dan rehabilitasi, aktivisme serta ilmu pengobatan dalam kepercayaan animisme. Film ini menampilkan Dimitri Mugianis, seorang yang pernah mengalami ketergantungan NAPZA, yang juga pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul         : I&#8217;m Dangerous With Love<br />
Jenis         : Dokumenter<br />
Durasi       : 85 menit<br />
Sutradara  : Michel Negroponte<br />
Produksi    : Blackbridge Production &#8211; Cactus Three</p>
<p>Resensi:</p>
<div id="attachment_5252" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-5252" src="http://napzaindonesia.com/wp-content/uploads/2011/01/dangerouswithlove_150_100.jpg" alt="" width="150" height="100" /><p class="wp-caption-text">I&#039;m Dangerous With Love</p></div>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=IpnBDmBWQ68" target="_blank"><em>I&#8217;m Dangerous With Love</em></a> bercerita tentang kecanduan dan rehabilitasi, aktivisme serta ilmu pengobatan dalam kepercayaan animisme. Film ini menampilkan Dimitri Mugianis, seorang yang pernah mengalami ketergantungan NAPZA, yang juga pernah menjadi vokalis band Leisure Class.<span id="more-5251"></span></p>
<p>Dimitri mengkhiri ketergantungan panjangnya pada obat-obatan dan alkohol dengan pengobatan eksperimental  yang menggunakan  Ibogaine, substansi psikoaktif yang didapatkan dari tanaman Iboga asal Afrika. Ibogaine merupakan senyawa golongan halusinogen. Kini Dimitri mengabdikan hidupnya  untuk  membantu  orang lain  mengatasi  kecanduan melalui  pengobatan.</p>
<p>Ilmu pengobatan Afrika telah menggunakan Ibogaine dalam ritual  mereka  selama berabad-abad, tapi di AS Ibogaine diklasifikasikan sebagai substansi Golongan I yang penggunaannya dikontrol dan ilegal, sehingga Dimitri harus bekerja melalui jaringan bawah tanah  untuk  memandu  para pecandu menjalani metode detoksifikasi yang pernah menyelamatkan nyawanya.</p>
<p><em>I&#8217;m Dangerous With Love</em> mengikuti jejak perjalanan Dimitri yang penuh risiko, saat ia mengobati pecandu NAPZA yang telah putus asa. Film ini mengabadikan aktivitas Dimitri yang penuh energi, berpindah mengobati satu pecandu ke pecandu berikutnya tanpa berhenti untuk mengatur nafas.</p>
<p>Film ini juga merekam episode mencari pemulihan diri bagi Dimitri ketika terjadi hal buruk pada satu sesi pengobatan di daerah bersalju yang terpencil di Kanada, ketika seorang pemuda pendiam hampir meninggal. Dimitri harus memutuskan apakah ia akan melanjutkan misinya atau berhenti sampai disini. Apakah dia sebenarnya melayani pecandu atau sekedar melepas setan pada dirinya sendiri.</p>
<p>Untuk menemukan jawaban, Dimitri melakukan perjalanan ke Gabon, Afrika Barat, untuk berkonsultasi dengan dukun Bwiti, dan menjalani  inisiasi hukuman Iboga. Michel Negroponte, si pembuat film, terus mengikuti perjalanan Dimitri  untuk menemukan jawaban bagi dirinya sendiri.</p>
<p>&#8220;<em>Sebuah eksplorasi tentang adiksi yang mendalam dan menghantui, pencarian tak kenal takut dari seorang individu unik yang telah ditentukan untuk menjadi penyembuh lewat kebijaksanaan purba Bwiti dan tanaman ajaib Iboga. Bagi mereka yang mencari  jalan  keluar  dari kegelapan, film ini sayang untuk dilewatkan</em>.&#8221; Charles Shaw, Alternet.</p>
<p>&#8220;<em>Luarbiasa: sangat jujur, lucu, tajam, heroik.  Negroponte tidak hanya bekerja ekstra untuk menangkap cerita dan karakter &#8211; ia mendahului beberapa tahun cahaya dimuka,dan menghanyutkan penonton melalui filmnya. Film ini akan merajai kancah festival</em>.&#8221; Sheffield. Doc / Fest</p>
<p>&#8220;<em>Dibingkai dengan humor yang bernada gelap, I&#8217;m Dangerous with Love adalah sebuah studi karakter yang menghanyutkan dan sebuah tamasya menarik ke sebuah subkultur bawah tanah</em>.&#8221; John Berra, Electric Sheep.</p>
<p>&#8220;&#8221;<em>Negroponte menaruh perhatian penuh kasih pada dunia adiksi, serta mengangkat kisah peperangan pribadi seseorang untuk menyelamatkan para pecandu satu demi satu dari waktu ke waktu</em>. &#8221; Ross McElwee. &#8221; Ross McElwee. (dm/YS)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.napzaindonesia.com/im-dangerous-with-love.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amexica: War Along the Borderline</title>
		<link>http://www.napzaindonesia.com/amexica-war-along-the-borderline.html</link>
		<comments>http://www.napzaindonesia.com/amexica-war-along-the-borderline.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 16:45:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[kartel]]></category>
		<category><![CDATA[Meksiko]]></category>
		<category><![CDATA[NAPZA]]></category>
		<category><![CDATA[narkoba]]></category>
		<category><![CDATA[narkotika]]></category>
		<category><![CDATA[penyelundupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napzaindonesia.com/?p=4365</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Amexica: War Along the Borderline, Pengarang: Ed Vulliamy, Bahasa: Inggris, Halaman: 368 Penerbit: Farrar, Straus and Giroux Tahun: 26 Oktober 2010, Resensi: Robert J. Stevenson, Ph.D Ditulis oleh seorang jurnalis Inggris terkemuka yang tinggal di Arizona dan London, Amexica adalah sebuah buku komprehensif, historikal, dan tidak ketinggalan zaman. Sebuah dongeng jujur yang disajikan lewat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4484" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-4484" style="margin: 5px;" title="Image: NapzaIndonesia.com" src="http://napzaindonesia.com/wp-content/uploads/2010/12/amexica_150_100.jpg" alt="" width="150" height="100" /><p class="wp-caption-text">Amexica</p></div>
<p>Judul: <strong>Amexica: War Along the Borderline</strong>, Pengarang: <strong>Ed Vulliamy</strong>, Bahasa:<strong> Inggris</strong>, Halaman: <strong>368 </strong>Penerbit: <strong>Farrar, Straus and Giroux Tahun: 26 Oktober 2010</strong>, Resensi: <strong>Robert J. Stevenson, Ph.D</strong></p>
<p>Ditulis oleh seorang jurnalis Inggris terkemuka yang tinggal di Arizona dan London, Amexica adalah sebuah buku komprehensif, historikal, dan tidak ketinggalan zaman. <span id="more-4365"></span>Sebuah dongeng jujur yang disajikan lewat perjalanan fisik dan pembelajaran sepanjang perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko yang dalam banyak segi merupakan sebuah kebudayaan tersendiri: bagian dari dua negara tetapi tidak sepenuhnya menjadi milik salah satu negara.</p>
<p>Sebagian dari buku ini adalah perjalanan sosial, sebagian adalah observasi mendalam, sebagian adalah usaha kritis untuk memahami isu-isu kompleks, sebagian adalah wawancara dan refleksi, sebagian adalah dokumentasi korupsi sistemik dan eksekusi publik, mutilasi, barbarisme, kemerosotan dan harapan.</p>
<p>Buku ini adalah jurnalisme superior, ditulis dengan menarik dan sangat informatif. Kebijakan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiksi) terkini telah menciptakan kekejaman dan menggerogoti peradaban, menukarnya dengan ketakutan dan kebisuan.</p>
<p>Kata &#8216;perang&#8217; bukanlah sekedar metafora, dan hal ini membutuhkan perhatian dan refleksi serius untuk menginformasikan kegagalan kebijakan &#8216;perang&#8217; tersebut.</p>
<p>Bila anda hanya dapat membaca satu buku tentang kebijakan NAPZA, bacalah buku ini. Mungkin, suatu hari nanti seorang jurnalis atau pelajar Meksiko akan benar-benar bebas menulis tentang hal ini.</p>
<p>Kita berhutang pada anak-anak yang hidup di perbatasan, yang setelah semua yang terjadi akan menjadi orang-orang yang paling berkepentingan memahami masalah NAPZA. (amz/YS/Gen)</p>
<p><!--Session data--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.napzaindonesia.com/amexica-war-along-the-borderline.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opium: Uncovering the Politics of the Poppy</title>
		<link>http://www.napzaindonesia.com/opium-uncovering-the-politics-of-the-poppy.html</link>
		<comments>http://www.napzaindonesia.com/opium-uncovering-the-politics-of-the-poppy.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 16:05:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Afghanistan]]></category>
		<category><![CDATA[NAPZA]]></category>
		<category><![CDATA[narkoba]]></category>
		<category><![CDATA[narkotika]]></category>
		<category><![CDATA[opium]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napzaindonesia.com/?p=4170</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Opium: Uncovering the Politics of the Poppy, Pengarang: Pierre-Arnaud Chouvy, Bahasa: Inggris, Hal: 256 halaman, Penerbit: Harvard University Press, Tahun: 2010, diresensi oleh: Phillip S. Smith Lebih dari 10 tahun, Pierre-Arnaud Chouvy seorang peneliti Perancis telah membangun reputasi sebagai ahli terkemuka di bidang opium dan perdagangan opium, dan dengan buku &#8220;Opium&#8221;, ia membuka akses [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4174" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-4174" href="http://napzaindonesia.com/opium-uncovering-the-politics-of-the-poppy.html/bukuopium"><img class="size-full wp-image-4174" style="margin: 5px;" title="coverOpium " src="http://napzaindonesia.com/wp-content/uploads/2010/11/bukuOpium.jpg" alt="" width="150" height="100" /></a><p class="wp-caption-text">Opium</p></div>
<p style="text-align: left;">Judul: <strong>Opium: Uncovering the Politics of the Poppy</strong>, Pengarang: <strong>Pierre-Arnaud Chouvy</strong>, Bahasa: <strong>Inggris</strong>, Hal: <strong>256 halaman</strong>, Penerbit: <strong>Harvard University Press</strong>, Tahun: <strong>2010, </strong>diresensi oleh: <strong>Phillip S. Smith</strong></p>
<p style="text-align: left;">Lebih dari 10 tahun, <a href="http://napzaindonesia.com/opium-uncovering-the-politics-of-the-poppy.html" target="_blank">Pierre-Arnaud Chouvy</a> seorang peneliti Perancis telah membangun reputasi sebagai ahli terkemuka di bidang opium dan perdagangan opium, dan dengan buku &#8220;Opium&#8221;, <span id="more-4170"></span>ia membuka akses pengetahuan pada pembaca berbahasa Inggris.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan menerbitkan &#8220;Opium&#8221;, Chouvy telah mengungkap sejarah panjang dan menakjubkan dari bunga <em>poppy</em> penghasil opium dan menjelajah dinamika dibalik pola mutasi kultivasi yang pernah terjadi dan distribusi yang menandai perdagangan opium di masa lalu.</p>
<p style="text-align: left;">Chouvy juga menerangkan mengapa kebijakan anti NAPZA agresif yang telah diberlakukan puluhan tahun oleh Amerika Serikat dan PBB telah gagal menekan atau mengurangi produksi <em>poppy</em> ilegal.</p>
<p style="text-align: left;">Pengetahuan Chouvy tentang perdagangan opium sangatlah luas, ia telah menjalani bertahun-tahun kehidupannya di Asia, dari Myanmar dan Laos sampai Afganistan dan Pakistan.</p>
<p style="text-align: left;">Saat ia melacak evolusi perdagangan opium pada abad 20, ia menemukan betapa sangat sulitnya menekan peredaran <em>poppy</em>, si pereda sakit.</p>
<p style="text-align: left;">Chouvy membawa pembaca pada kisah kesuksesan China (walaupun secara temporer) melarang peredaran opium pada 1950 dan menunjukkan betapa pelarangan justru memicu produksi opium di perbatasan selatan di Thailand, Laos dan Myanmar.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam perjalanannya, Chouvy menyingkap kesia-siaan perang terhadap NAPZA dengan membuka relasi saling menguntungkan antara ekonomi NAPZA dan ekonomi perang.</p>
<p style="text-align: left;">Sebuah perdagangan yang mempersubur kemiskinan dan keterbelakangan karena konflik penuh kekerasan yang tak mampu diredakan oleh kekuatan militer sekalipun. Sehingga, logika yang melatar belakangi perang terhadap NAPZA hampir seluruhnya kontra produktif (Orang dapat berargumen bahwa pasar memicu adanya produksi, walaupun opium tergolong jenis komoditas yang menciptakan pasarnya sendiri).</p>
<p style="text-align: left;">Hal tersebut bukanlah pokok masalah, Chouvy lebih menitikberatkan pada kronologi. Terutama pada area yang didominasi oleh paradigma perang terhadap NAPZA buatan AS dan PBB.</p>
<p style="text-align: left;">Pendekatan tersebut telah terbukti gagal, karena pemusnahan dijadwalkan sebelum pengembangan alternatif dilakukan. Permasalahan pokok ini saling terkait. Pengembangan solusi alternatif harus dilakukan sebelum adanya kebijakan pemusnahan atau  pelarangan, atau kebijakan tersebut akan sama sekali tak berfungsi.</p>
<p style="text-align: left;">Masalah ketiga dengan program pengembangan alternatif adalah, sampai sekarang, AS telah merancang sebuah kebijakan &#8216;satu untuk semua&#8217; tanpa memandang perbedaan pola penanaman <em>poppy</em> di perbatasan tiap-tiap negara, terutama di dalam sebuah negara.</p>
<p style="text-align: left;">Di Afghanistan contohnya, petani <em>poppy</em> yang miskin yang kekurangan persediaan pangan terpaksa menanam<em> poppy</em> disela-sela tanaman pangannya, sementara petani <em>poppy</em> yang kaya menambah jumlah tanaman <em>poppy </em>untuk meraih keuntungan yang lebih besar.</p>
<p style="text-align: left;">Program pengembangan harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik di skala lokal dan pada kondisi tertentu, tulis Chouvy.</p>
<p style="text-align: left;">Tetapi, mengurangi penanaman opium memiliki tantangan fundamental.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Sangat perlu mengidentifikasi dan memperhatikan penyebab kemiskinan dan kekurangan pangan, bila produksi poppy akan dikurangi atau ditekan,&#8221; imbuh Chouvy.</p>
<p style="text-align: left;">Ini sebuah hal yang sangat sulit bagi sebuah negara seperti Afganistan dan Myanmar, dan kebijakan ini menuntut adanya perubahan ekonomi, sosial dan politik yang mungkin tidak diperhatikan oleh mayoritas negara-negara donor seperti AS.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan &#8220;Opium&#8221;, Chouvy telah memberikan kontribusi besar pada literatur perdagangan <em>poppy</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Buku Chouvy sangat perlu dibaca oleh para akademisi, aktivis, pemangku kebijakan, pekerja LSM, dan siapa saja yang memiliki ketertarikan serius pada perdagangan opium dan bagaimana menyikapinya. (YS)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.napzaindonesia.com/opium-uncovering-the-politics-of-the-poppy.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arthur, Mantan Pecandu Yang Sukses Menjadi General Manager</title>
		<link>http://www.napzaindonesia.com/arthur-mantan-pecandu-yang-sukses-menjadi-general-manager.html</link>
		<comments>http://www.napzaindonesia.com/arthur-mantan-pecandu-yang-sukses-menjadi-general-manager.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 08:52:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[ganja]]></category>
		<category><![CDATA[heroin]]></category>
		<category><![CDATA[NAPZA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napzaindonesia.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Kuta &#8211; Sosok kita bulan ini adalah Arthur Stewart, lelaki asal Bandung yang saat ini menetap di Bali. Petualangan lelaki berwajah indo, di dunia narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) ini dimulai sejak kelas 1 SMP. Saat itu Arthur sudah mulai mencoba menggunakan obat-obat penenang dan ganja karena mengikuti tren pergaulan. Kepada NapzaIndonesia.com, Arthur, mengaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-295" style="margin: 5px;" title="arthur001" src="http://napzaindonesia.com/wp-content/uploads/2009/10/arthur001.jpg" alt="arthur001" width="150" height="100" />Kuta</strong> &#8211; Sosok kita bulan ini adalah Arthur Stewart, lelaki asal Bandung yang saat ini menetap di Bali. Petualangan lelaki berwajah indo, di dunia narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) ini dimulai sejak kelas 1 SMP. Saat itu Arthur sudah mulai mencoba menggunakan obat-obat penenang dan ganja karena mengikuti tren pergaulan.<span id="more-294"></span></p>
<p style="text-align: left;">Kepada <strong>NapzaIndonesia.com</strong>, Arthur, mengaku saat mulai menggunakan NAPZA, Ia kurang memahami dampak negatif yang ditimbulkan dari obat-obatan yang dikonsumsinya itu.</p>
<p style="text-align: left;">Pada 1992, seiring dengan berjalannya waktu, Arthur yang saat itu sudah duduk di bangku SMA makin menjadi. Dari coba-coba menggunakan ganja, Ia mulai menggunakan heroin.</p>
<p style="text-align: left;">Saat menggunakan <em>hard drugs</em> ini, Ia sudah tahu pasti bahaya apa yang menantinya. Tapi rasa ingin tahu dan keinginan untuk mendapatkan kenikmatan yang &#8220;lebih&#8221; telah membuat Ia mengabaikan kecemasan akan dampak buruk heroin.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Dalam waktu singkat, heroin yang dikonsumsi dengan cara dihirup tidak lagi memuaskan, saya pun mulai menggunakan heroin dengan cara menyuntik.&#8221; ujar lelaki kelahiran 7 Juli ini.</p>
<p style="text-align: left;">3 tahun berada dalam ketergantungan heroin membuat kehidupan Arthur bertambah buruk. Satu persatu kawan dan sahabat mulai menjauhinya, dan keluarga sering memperingatkan Arthur untuk kembali menata hidupnya.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Hidup saya menjadi tidak teratur dan hanya terpaku pada satu tujuan, yakni bagaimana bisa mendapatkan kebutuhan obat untuk hari itu.&#8221; imbuh lelaki yang saat di kota asalnya dahulu sempat tergabung dalam perkumpulan Bikers Brotherhood Bandung (BBB) ini.</p>
<p style="text-align: left;">Tiga tahun kemudian, Arthur memutuskan untuk menempuh terapi dan rehabilitasi pada sebuah klinik ketergantungan NAPZA di Singapura. Selama 2 tahun di negeri Singa ini, Ia berjuang untuk mengalahkan ketergantungannya pada NAPZA dengan bertahan menjalani pengobatan di klinik tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Akibat menggunakan NAPZA,  salah satu ginjalnya harus diangkat, dan fungsi lever-nya pun menurun. Arthur menjadi lebih pelupa dan mengalami kesulitan untuk mengendalikan temperamen. Arthur juga masih menderita <em>insomnia</em> yang biasa menghinggapi para mantan pengguna NAPZA.</p>
<p style="text-align: left;">Dokter mewajibkan dirinya untuk selalu menjaga pola makan serta istirahat yang cukup untuk mempertahankan kesehatannya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Dari Bandung Menuju Bali</strong></p>
<p style="text-align: left;">Pada 1997, Arthur kembali ke Indonesia. Ia-pun memutuskan untuk meninggalkan Bandung untuk menuju ke Bali. Keputusannya ini adalah untuk menghindari lingkungan pergaulannya yang lama, yang belum lepas dari penggunaan NAPZA ilegal.</p>
<p style="text-align: left;">Keinginan kuat Arthur untuk mengubah hidupnya dengan cara pindah ke Bali, tidaklah sia-sia. Di Bali cita-citanya untuk mengembangkan hobi lama di bidang perakitan motor besar tercapai.</p>
<p style="text-align: left;">Tekad yang kuat dari Arthur untuk membuka lembaran baru hidupnya di Bali pun berbuah manis. Di Pulau Dewata ini, Ia bertemu dengan Steven Malotsis (41), seorang pengusaha asal Melbourne &#8211; Australia. Mereka pun kemudian bekerjasama mengembangkan sebuah usaha persewaan dan perakitan motor besar jenis <em>chopper</em> yang berlokasi di kawasan jalan Melasti, Legian-Bali.</p>
<p style="text-align: left;">Perusahaan yang didirikan pada 2007 lalu ini, sampai sekarang menjadi satu-satunya tempat acuan bagi para penggemar <em>chopper</em> yang berkunjung ke Bali, baik sekedar untuk menyewa atau memesan motor <em>chopper</em> rakitan dan modifikasi sesuai keinginan mereka.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Chopper Heaven</em> yang dikelolanya ini, telah membawa Arthur meraih sukses dalam dunia yang sangat Ia minati, motor besar.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Tidak kurang dari 20 klub motor besar dari mancanegara menjadikan Chopper Heaven tempat singgah untuk bertukar informasi tentang motor Chopper.&#8221; ujar General Manager Chopper Heaven ini.</p>
<p style="text-align: left;">Tidak hanya jadi tempat rujukan dunia motor besar semata, Arthur dan Chopper Heaven yang dikelolanya pun kerap menghadiri beragam kegiatan motor besar internasional.</p>
<p style="text-align: left;">Kepada <strong>NapzaIndonesia.com</strong>, Arthur merasa bangga bahwa Ia dapat mengubah hidupnya menjadi lebih berguna dan terarah pada saat berhasil meninggalkan penggunaan <em>hard drugs</em>. Ia yakin, keberhasilannya ini dapat juga diraih oleh teman-teman lain yang saat ini masih berada dalam ketergantungan NAPZA.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Kunci keberhasilan saya karena ada dukungan dari keluarga serta tekad kuat dari dalam diri saya sendiri untuk meninggalkan dunia penyalahgunaan NAPZA.&#8221; papar lelaki tidak pernah malu mengakui keberadaan dirinya sebagai mantan pengguna NAPZA.</p>
<p style="text-align: left;">Ia berharap dengan berbagi kisah hidupnya ini, Ia dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman pengguna NAPZA lainnya untuk dapat meraih kehidupan yang lebih baik.(YS)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.napzaindonesia.com/arthur-mantan-pecandu-yang-sukses-menjadi-general-manager.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Powderburns: Cocaine, Contras and The Drug War</title>
		<link>http://www.napzaindonesia.com/powderburns-cocaine-contras-and-the-drug-war.html</link>
		<comments>http://www.napzaindonesia.com/powderburns-cocaine-contras-and-the-drug-war.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 14:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[kartel]]></category>
		<category><![CDATA[kokain]]></category>
		<category><![CDATA[NAPZA]]></category>
		<category><![CDATA[narkoba]]></category>
		<category><![CDATA[narkotika]]></category>
		<category><![CDATA[Nikaragua]]></category>
		<category><![CDATA[penyelundupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napzaindonesia.com/?p=4155</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Powderburns: Cocaine, Contras &#38; the Drug War, Bahasa: Inggris, Hal: 240 halaman, Penerbit: Mosaic Press, Tahun: September 1994. Resensi: Powderburns mengisahkan tentang Celerino Castillo III, mantan agen Drug Enforcement Agency (DEA) yang bertugas di Amerika Tengah. Ia menjadi saksi hidup keterlibatan Oliver North and pemerintahan Presiden Ronald Reagan dalam menyelundupkan kokain untuk membiayai pasukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4162" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-4162" href="http://napzaindonesia.com/powderburns-cocaine-contras-and-the-drug-war.html/bukucelecastiloiii"><img class="size-full wp-image-4162" style="margin: 5px;" title="bukuCeleCastiloIII" src="http://napzaindonesia.com/wp-content/uploads/2010/11/bukuCeleCastiloIII.jpg" alt="" width="150" height="100" /></a><p class="wp-caption-text">Powderburns</p></div>
<p style="text-align: left;">Judul: <strong>Powderburns: Cocaine, Contras &amp; the Drug War</strong>, Bahasa: <strong>Inggris</strong>, Hal: <strong>240 halaman</strong>, Penerbit: <strong>Mosaic Press</strong>, Tahun: <strong>September 1994</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Resensi:</p>
<p style="text-align: left;"><em>Powderburns</em> mengisahkan tentang Celerino Castillo III, mantan agen Drug Enforcement Agency (DEA) yang bertugas di Amerika Tengah. <span id="more-4155"></span>Ia menjadi saksi hidup keterlibatan Oliver North and pemerintahan Presiden Ronald Reagan dalam menyelundupkan kokain untuk membiayai pasukan Contra.</p>
<p style="text-align: left;">Buku ini dipublikasikan sebelum artikel Gary Webb &#8220;Dark Alliance&#8221; yang terbit pada 1997. Artikel kontroversial Gary Web tersebut juga membahas tentang peran Central Intelligence Agency (CIA) dalam membawa <em>crack</em> (kokain) ke jalanan Amerika.</p>
<p style="text-align: left;">Buku Castillo menceritakan kisah yang terpercaya yang ditulis oleh orang paling memahami skandal tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam menjalankan misinya Castillo diam-diam menyelidiki jaringan perdagangan kokain CIA. Ia mendapati adanya jual beli kokain dengan senjata yang dioperasikan oleh Letnan Kolonel Oliver North, Richard Secord dan anak perusahaan CIA, Southern Air Transport di luar bandara Ilopango di El Salvador.</p>
<p style="text-align: left;">North dan para bawahannya menjual senjata dengan harga sangat mahal ke Iran, sementara membanjiri kota-kota di Amerika dengan kokain. Mereka menggunakan keuntungan perdagangan tersebut untuk kembali membeli senjata yang kemudian dibawa ke Nikaragua dan ditukar dengan kokain.</p>
<p style="text-align: left;">Kokain tersebut dibawa ke Amerika dibawah perlindungan pasukan militer AS dan CIA. Pesawat dan hanggar pesawat dimiliki oleh CIA dan Dewan Keamanan Nasional AS (NSA). Pilot-pilot yang menerbangkan pesawat tersebut dikontrak oleh CIA.</p>
<p style="text-align: left;">Korupsi dan keterlibatan CIA dalam industri perdagangan obat-obatan ilegal tidak membuat Castillo mundur dari misi pengungkapannya.</p>
<p style="text-align: left;">Berkali-kali Castillo dipergoki oleh atasan langsungnya di DEA karena berada di tempat-tempat yang bukan seharusnya saat ia melakukan investigasi.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika terjadi kecelakaan heli kedua, Cele dianggap bertanggung jawab atas insiden ini, dan membuat murka para  bandar kokain yang menantikan tibanya pesanan.</p>
<p style="text-align: left;">Tetapi, Castillo melanjutkan penyelidikan dan melaporkan semuanya pada DEA Washington. Kisah pengungkapan yang luar biasa, dilakukan oleh satu orang melawan kekuatan-kekuatan besar untuk menegakkan keadilan. (YS)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.napzaindonesia.com/powderburns-cocaine-contras-and-the-drug-war.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>After-Prohibition</title>
		<link>http://www.napzaindonesia.com/after-prohibition.html</link>
		<comments>http://www.napzaindonesia.com/after-prohibition.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 19:52:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napzaindonesia.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Judul: After-Prohibition, Editor: Timothy Lynch, Bahasa: Inggris, Hal: 193 halaman, Penerbit: Cato Institue, Washington DC, USA, Tahun: 2000, Resensi: Perang terhadap narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) yang telah puluhan tahun dilakukan di Amerika Serikat ternyata menjadi perang yang panjang dan melelahkan. Seolah menjadi perang yang tidak pernah usai bahkan bisa dikatakan gagal, karena jargon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-157" style="margin: 5px;" title="after-prohibition_130" src="http://napzaindonesia.com/wp-content/uploads/2009/09/after-prohibition_130.jpg" alt="after-prohibition_130" width="150" height="100" />Judul: <strong>After-Prohibition</strong>, Editor: <strong>Timothy Lynch</strong>, Bahasa: <strong>Inggris</strong>, Hal: <strong>193 halaman</strong>, Penerbit: <strong>Cato Institue, Washington DC</strong>, USA, Tahun: 2000, Resensi:</p>
<p style="text-align: justify;">Perang terhadap narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) yang telah puluhan tahun dilakukan di Amerika Serikat ternyata menjadi perang yang panjang dan melelahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seolah menjadi perang yang tidak pernah usai bahkan bisa dikatakan gagal, <span id="more-155"></span>karena jargon pemerintah federal Amerika Serikat untuk membebaskan Amerika dari pengaruh NAPZA tidak pernah terwujud. Sebagai catatan pemerintah Amerika pernah mencanangkan &#8220;Amerika Bebas NAPZA 1995&#8243; namun hingga saat ini pencanangan tersebut tidak pernah terwujud.</p>
<p style="text-align: justify;">Pencanangan &#8220;Amerika Bebas NAPZA 1995&#8243; bukan perkara mudah dan murah, karena konggres Amerika telah mengucurkan dana hingga milyaran dollar Amerika.</p>
<p style="text-align: justify;">Dana yang tidak sedikit ini digunakan oleh pemerintah federal untuk membiayai operasi-operasi anti NAPZA yang dilakukan oleh kepolisian, kejaksaan, pengadilan NAPZA, dan penjara di seluruh negara bagian.</p>
<p style="text-align: justify;">Kendati Jutaan orang ditahan dan jumlah barang sitaan NAPZA yang tak terhitung nilainya namun Amerika tetap tidak bebas dari NAPZA. Bahkan hingga saat ini NAPZA ilegal dengan mudah didapatkan, semudah yang terjadi di masa lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebijakan pelarangan NAPZA terbukti menjadi sebuah kegagalan yang mahal. Seperti halnya pelarangan alkohol, pelarangan NAPZA menciptakan lebih banyak permasalahan daripada memperbaiki keadaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang terhadap NAPZA telah menghancurkan kehidupan penduduk kota, menciptakan penegak hukum yang korup, dan membuat kebijakan luar negeri Amerika menjadi tidak jelas. Tetapi, masih saja pelarangan NAPZA dipandang sebagai strategi jitu oleh para elit politik Amerika.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebalikannya, kebijakan NAPZA alternatif – seperti legalisasi NAPZA – berada jauh diluar parameter pembicaraan serius di Washington DC. Tidak seorang pun dapat menjamin bahwa legalisasi NAPZA akan menjadi penyelesaian untuk semua masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah dapat dipastikan bahwa penyalahgunaan NAPZA akan tetap menjadi masalah walaupun kebijakan legalisasi NAPZA diterapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi kebijakan pelarangan NAPZA adalah sebuah kebijakkan kontra produktif yang memperlakukan rakyat Amerika dengan sangat sedikit rasa hormat. Kebijakan tersebut memperlakukan rakyat Amerika seperti anak-anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah saatnya untuk berkompromi dengan masalah penggunaan NAPZA pada orang dewasa dengan cara yang lebih terbuka, jujur dan dewasa. Perang terhadap NAPZA telah diberi kesempatan untuk membuktikan keberhasilannya, tetapi kebijakan tersebut telah gagal dengan sangat menyedihkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku ini ditulis oleh beberapa praktisi yang sangat berpengalaman di bidangnya. Selain Timothy Lynch ada juga Ted Galen Carpenter (Wakil Presiden untuk Studi Pertahanan dan Kebijakan Luar Negeri, Cato Institute), Steven Duke (Prof Hukum, Yale Univ.), Gary Johnson (Gubernur New Mexico), David Klinger (Prof. Kriminologi, Univ. of Missouri), Michael Levine (Mantan Agen Drug Enforcement Agency), Daniel Lungren (mantan Kepala Departemen Kehakiman &#8211; California).</p>
<p style="text-align: justify;">Buku ini cukup layak untuk dibaca dan dimiliki, bahkan sangat layak dijadikan referensi bagi para penegak hukum dan akademisi di Indonesia, mengingat persoalan yang sama juga terjadi di negara kita yang tercinta ini.(YS/Gen)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.napzaindonesia.com/after-prohibition.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>American Drug War</title>
		<link>http://www.napzaindonesia.com/american-drug-war.html</link>
		<comments>http://www.napzaindonesia.com/american-drug-war.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 17:36:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napzaindonesia.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Judul : American Drug War Jenis : Dokumenter Durasi : 120 menit Sutradara : Kevin Booth Resensi: 35 tahun setelah Presiden Amerika Serikat Ricard Nixon memulai perang terhadap narkoba, Amerika menuai lebih dari 1 juta &#8216;warga binaan&#8217; narkotika non-kekerasan yang hidup dibalik jeruji besi. Perang Terhadap Narkoba telah menjadi perang terpanjang dan termahal dalam sejarah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul        : <strong><a href="http://www.youtube.com/watch?v=n5am_VXd2ik">American Drug War</a> </strong><br />
Jenis        : <strong>Dokumenter</strong><br />
Durasi      : <strong>120 menit</strong><br />
Sutradara : <strong>Kevin Booth </strong><br />
Resensi:<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-132" title="american" src="http://napzaindonesia.com/wp-content/uploads/2009/08/american.jpg" alt="american" width="150" height="100" />35 tahun setelah Presiden Amerika Serikat Ricard Nixon memulai perang terhadap narkoba, Amerika menuai lebih dari 1 juta &#8216;warga binaan&#8217; narkotika non-kekerasan yang hidup dibalik jeruji besi.</p>
<p>Perang Terhadap Narkoba telah menjadi perang terpanjang dan termahal dalam sejarah Amerika, pertanyaan yang muncul, berapa lama lagi negara ini akan bertahan?<span id="more-142"></span></p>
<p>Film dokumenter <a href="http://www.americandrugwar.com/">American Drug War</a> ini terinspirasi dari kematian empat anggota keluarga Kevin Booth (sutradara) karena penggunaan ‘napza legal‘.<br />
Kevin Booth, <em>film maker</em> asal Texas berniat untuk menemukan mengapa perang terhadap narkoba adalah sebuah kegagalan besar.</p>
<p>Dalam 3,5 tahun masa pembuatan film ini, Kevin Booth mengikuti anggota gang, beberapa mantan agen DEA, pejabat-pejabat CIA, pejabat-pejabat di bidang NAPZA, hakim, politisi, warga binaan dan pesohor di Amerika.</p>
<p>Hal yang paling menonjol dalam film ini adalah mengangkat kisah tentang Freeway Ricky Ross, lelaki yang dituduh banyak pihak sebagai orang yang bertanggung jawab atas epidemi <em>Crack Cocaine</em> di Amerika, yang setelah ditahan akhirnya menemukan bahwa bandar kokain tempat Ia mendapatkan barang, ternyata bekerja untuk CIA.</p>
<p>American Drug War menunjukkan bagaimana, uang, kekuasaan, ketamakan telah merusak, bukan saja pada pengedar NAPZA, tetapi seluruh sistem pemerintahan.</p>
<p>Film ini bukan sebuah film yang ‘pro-pengguna napza’, tapi sebuah kumpulan kesaksian (testimoni) para ahli dari kelas akar rumput hingga pada para petinggi yang berada dibalik perang terhadap narkoba.</p>
<p>Setelah 4 tahun masa produksi termasuk beberapa ‘test screening’ yang cukup laku keras di New York, Austin dan Los Angeles, versi akhir dari American Drug War-The Last White Hope, pun diluncurkan ke publik.(YS)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.napzaindonesia.com/american-drug-war.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

