Sebuah refleksi pribadi
Oleh: Aditya Wardhana*
Sering kali kita mendengar, bahkan turut mengucapkan bahwa stigma dan diskriminasi yang dialamatkan pada orang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan populasi kunci** lainnya, seperti pekerja seks, gay, waria dan pengguna Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lain (NAPZA) masih menjadi masalah besar dalam program penanggulangan AIDS.
Stigma dan diskriminasi dianggap menjadi salah satu penghalang utama keberhasilan program penanggulangan AIDS, baik diranah pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan.
Hampir semua pelaku gerakan peduli HIV/AIDS mengamini bahwa permasalahan stigma dan diskriminasi harus dihadapi dengan sebuah perlawanan sosial guna membalikkan paradigma arus utama terhadap keberadaan orang terinfeksi HIV dan populasi kunci.
Dalam membalikkan paradigma tersebut telah didengung-dengungkan pentingnya keberadaan perspektif “korban” dalam melihat fenomena dan relasi sosial terkait orang terinfeksi HIV dan populasi kunci.
Perspektif “korban” yang terjadi karena kuatnya sebuah sistem, norma dan aturan yang mengikat semua aspek kehidupan, diharapkan mampu menjadi pendobrak dalam politik keberadaan orang terinfeksi HIV dan populasi kunci.
Ironisnya dalam memperjuangkan politik keberadaan dengan senjata utama perspektif “korban” kerap kali telah menimbulkan sikap ego-sentris yang memandang dan menganggap bahwa kelompok tertentu adalah kelompok yang paling menjadi korban sehingga layak untuk mendapatkan tempat lebih tinggi dibanding “korban-korban” lain.
Seolah tidak selesai dengan proses pembelajarannya, ketika memperjuangkan politik keberadaan dengan senjata perspektif “korban” yang disandingkan dengan unsur penegakan Hak Asasi Manusia, tanpa disadari sesama “korban” kerapkali saling menjatuhkan dan membuat sebuah tradisi stigma dan diskriminasi diantara korban semakin mencuat dan seolah menjadi hal yang biasa.
Orang terinfeksi HIV menganggap dirinya lebih tinggi dari pekerja seks, pekerja seks menganggap dirinya lebih tinggi dari pengguna NAPZA, pengguna NAPZA menganggap dirinya lebih tinggi dari gay dan seterusnya sehingga muncul sebuah parodi kekonyolan dalam memperebutkan status kelompok yang paling menjadi “korban”.
Situasi menyedihkan ini tanpa disadari semakin membuat pelaku pergerakan semakin jauh dari perspektif “korban” itu sendiri. Tanpa disadari pelaku pergerakan telah membuat “korban-korban” baru dalam dalam memperjuangkan politik keberadaan dengan slogan Hak Asasi Manusia.
Hal ini semakin membuat pergerakan “korban” menjadi sebuah lagu tanpa nada dalam arus utama yang seharusnya menjadi perlawanan bersama.
Jakarta, 12 Juni 2010, memperingati Malam Renungan AIDS Nasional (MRAN) 2010.
*Aditya Wardhana seorang praktisi advokasi pengobatan HIV/AIDS, sekarang bekerja untuk UNGASS Forum
**Populasi Kunci: kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terinfeksi HIV
Tags: HIV/AIDS
Palo Alto – Kematian Steve Jobs, pendiri dan CEO Apple, telah menyentuh hati masyarakat dunia....
Bogor – Malam beranjak larut ketika NapzaIndonesia.com menemui Samuel Nugraha atau yang lebih akrab dipanggil...
Kuta – Sosok kita bulan ini adalah Arthur Stewart, lelaki asal Bandung yang saat ini...