
Yvonne Sibuea
Oleh: Yvonne Sibuea*
1 Desember 2010. Seluruh dunia memperingati apa yang dikenal dengan sebutan Hari AIDS Sedunia.
Saya tidak akan membahas sejarah mengapa orang memperingati hari ini. Anda bisa dengan mudah menemukannya dengan merambah mesin pencari di internet.
Saya juga tidak ingin mengangkat pro kontra yang mengiringi peringatan Hari AIDS Sedunia pada sepetik tulisan ini.
Saya tidak ingin menyuguhkan data statistik, penelitian terkini maupun pernyataan para ahli di bidang kesehatan masyarakat maupun tokoh organisasi internasional terkait HIV dan AIDS pada tulisan ini.
Ingatan saya terbawa pada satu malam di tahun 2006, dimana lilin-lilin kecil dinyalakan untuk mengenang orang-orang terinfeksi HIV yang sudah lebih dulu pergi, saya hadir disitu.
Panitia peringatan meminta saya mengucapkan sepatah dua patah kata untuk mengenang ‘mereka’ yang telah pergi.
Kebetulan panitia mendapatkan informasi, saya baru saja kehilangan orang terdekat karena AIDS. Karenanya saya mendapatkan kehormatan untuk berbagi apa yang saya rasakan.
Menuruti kata hati, ingin saya menciut dan meninggalkan kerumunan peserta, saat beberapa orang dipanggil maju ke podium untuk menyampaikan pesan.
Akhirnya ‘sepatah dua patah kata’ itu terucap juga. Terburu-buru saya menyelinap meninggalkan podium dan mikrofon sebelum airmata membuat pandangan saya makin berkabut.
Malam yang sederhana, tapi malam tersebut telah mampu memaksa saya untuk kemudian berkutat, dan merasakan carut marut sebuah dunia yang dinamakan ‘penanggulangan HIV/AIDS’.
Sebuah frase yang saya sendiri entah mengapa kurang nyaman mendengarnya. Seakan-akan seperti sebuah jargon yang sangat jumawa, yang membuat saya sebagai masyarakat awam menjadi malu sendiri saat mengucapkannya. Karena implementasinya ternyata tidak semudah pelafalannya.
Mengapa harus di isu AIDS? Satu hal yang sekali lagi saya katakan sederhana. Sesederhana mimpi saya agar tidak ada orang lain yang mengalami kehilangan orang terdekat, seperti yang telanjur terjadi pada saya. Dan untuk mewujudkan sang mimpi, tentu saja saya harus mau ‘terjun’ dan rela ‘berlumur lumpur’ didalamnya.
Dalam pemahaman saya, tak akan pernah ada hal yang berubah bila seseorang hanya duduk, diam, mencela tanpa bekerja. Jadi, disinilah saya sekarang.
Empat tahun berlalu, dan 1 Desember itu tiba lagi. Hanya dalam empat tahun, saya sudah kehilangan seluruh persediaan airmata dan kesedihan.
Ya, saya sudah tidak mampu lagi meratap-ratap seperti empat tahun lalu. Ketika satu demi satu kepergian sahabat,rekan kerja maupun orang-orang yang saya kenal harus saya ikhlaskan. Saya yakin airmata tidak lagi berguna.
Saya hanya harus bekerja lebih keras, hanya harus berbagi pemahaman dengan lebih banyak orang, harus menularkan ‘the almost impossible mission’ ini agar dikerjakan lebih banyak pihak.
Ketika empat tahun lalu, pidato para pemangku kebijakan masih mampu melenakan harapan akan adanya perbaikan penanganan masalah HIV/AIDS, kini harapan itu justru kering tersapu angin panas kenyataan.
Para petinggi yang pernah saya kagumi karena janji manis yang diucapkan di podium Peringatan Hari AIDS Sedunia, dikemudian hari akhirnya harus berhadap-hadapan dengan saya dan masyarakat terdampak AIDS lainnya di meja-meja pertemuan dengar pendapat yang melelahkan.
Hari ini 1 Desember kembali tiba. Bagi saya pribadi, airmata dan pidato bukan saatnya lagi. Saya harus kembali bekerja, selamat dinihari pembaca.
*salah satu pendiri PERFORMA-Komunitas korban NAPZA yang berbasis di Semarang, pemerhati masalah kebijakan NAPZA, ibu rumah tangga.
Tags: Hari AIDS Sedunia, HIV/AIDS, kebijakan publik, NAPZA
Palo Alto – Kematian Steve Jobs, pendiri dan CEO Apple, telah menyentuh hati masyarakat dunia....
Bogor – Malam beranjak larut ketika NapzaIndonesia.com menemui Samuel Nugraha atau yang lebih akrab dipanggil...
Kuta – Sosok kita bulan ini adalah Arthur Stewart, lelaki asal Bandung yang saat ini...
Pingback: Tweets that mention Hari AIDS Sedunia: Ketika Airmata Bukan Saatnya Lagi | NapzaIndonesia.com -- Topsy.com