Jakarta – Sejak 2008 heroin telah menjadi tren baru dalam bisnis narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) di Indonesia. Dalam dua tahun ini heroin mengalahkan amphetamine dan ekstasi dalam sejumlah kasus yang berhasil diungkap oleh polisi.
“Dalam dua terakhir heroin yang paling tinggi dalam kasus-kasus yang kami ungkap, heroin mulai meningkat pada awal 2010, nampaknya jaringan heroin mulai bermain di Indonesia.” papar Kabag Analis Direktorat Resaerse Narkoba Polda Metro Jaya, AKB Gembong Yudho
Maraknya heroin dimulai pada akhir 2009 dan semakin merajalela pada awal 2010. Peredarannya mengalahkan narkotika golongan satu lainnya, yakni shabu dan ekstasi.
Pengedaran narkoba tersebut diolah dari jaringan narkoba bulan sabit emas (golden crescent), asal Afghanistan, yang sebelumnya dikendalikan oleh jaringan segitiga emas, yakni dari Birma, jelas Gembong Yudho.
Gembong Yudho juga menilai ada peningkatan pada kualitas narkoba yang diedarkan.
“Dulu harus dibawa dari luar, sekarang bahan-bahannya mereka (pengedar) olah di sini, sekarang banyak kita ungkap pabrik narkoba di skala rumahan dan apartemen,” lanjutnya.
Sedangkan untuk pengedarnya tidak banyak perubahan. Menurut Gembong, selama dua tahun ini yang ditangkap oleh kepolisian adalah residivis atau pemain lama yang kembali menjadi pengedar atau membuat sindikat baru. Untuk pemakainya sendiri sudah ada penurunan.(MI/AM)
Palo Alto – Kematian Steve Jobs, pendiri dan CEO Apple, telah menyentuh hati masyarakat dunia....
Bogor – Malam beranjak larut ketika NapzaIndonesia.com menemui Samuel Nugraha atau yang lebih akrab dipanggil...
Kuta – Sosok kita bulan ini adalah Arthur Stewart, lelaki asal Bandung yang saat ini...