Kesempatan Yang Hilang: Gagalnya Obama dan Calderon Bahas Alternatif Perang NAPZA

March 4th, 2011

Daniel Robelo Foto: flickr

Oleh: Daniel Robelo*

Pada pertemuan Kamis lalu (3/3), Presiden Meksiko Felipe Calderon dan Presiden AS Barack Obama menafikan penyebab utama kekerasan yang menghancurkan Meksiko, yaitu pelarangan NAPZA.

Sungguh mengecewakan, kunjungan Calderon lagi-lagi merupakan kesempatan yang disia-siakan AS dan Meksiko untuk menyadari bahwa pelarangan NAPZA telah gagal menurunkan animo penggunaan NAPZA atau memusnahkan kekuasaan bandar NAPZA.  Kesempatan menggelar debat serius untuk mencari alternatif yang lebih efektif, termasuk legalisasi NAPZA, telah dilewatkan begitu saja.

Kita tak mungkin terus diam. Tragedi yang masih berlangsung di Meksiko merupakan peringatan yang menyakitkan sebagai konsekuensi pelarangan NAPZA. Selama empat tahun terakhir, 35 ribu orang terbunuh di Meksiko, termasuk lebih dari 1000 diantaranya adalah anak-anak, yang menurut pernyataan UNICEF baru-baru ini merupakan “tipe kekerasan baru” pada anak-anak di seluruh wilayah tersebut.

Pada 2010 saja, lebih dari 15 ribu orang terbunuh, membuat tahun 2010 adalah tahun paling berdarah sejak Calderon memerintahkan tentara menghabisi bandar NAPZA.

Menurut The Trans-Border Institute, 14 Walikota dan 11 jurnalis telah terbunuh pada 2010. Ini merupakan bukti nyata bahwa pelarangan NAPZA tidak hanya memakan korban jiwa warga Meksiko, tetapi juga menghancurkan demokrasi Meksiko.

Kekerasan terus menyebar. Tak lagi terbatas di Meksiko Utara, kekerasan mencapai tempat yang dahulu penuh kedamaian seperti Monterrey, kota terkaya di Meksiko, bahkan sampai merambah ibukota Meksiko. Kekerasan juga menyebar di wilayah regional.

Bandar NAPZA meningkatkan keberadaan mereka di banyak negara Amerika Tengah, khususnya Guatemala dan El Salvador.

Kendati penyitaan NAPZA besar-besaran dilakukan, penangkapan atau pembunuhan terhadap beberapa bandar NAPZA terkemuka, mayoritas bandar tetap berkuasa mutlak. NAPZA tetap mengalir tak terkendali di jalanan AS. Sementara, pesan diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks Desember lalu mengungkapkan bahwa para pejabat AS sendiri tidak yakin perang terhadap NAPZA bakal berhasil.

Pesan yang bocor tersebut menunjukkan tidak adanya strategi yang jelas tentang investasi 1.4 triliun dolar AS berbentuk bantuan militer pada Meksiko, terkait maraknya korupsi di kalangan pejabat Meksiko.

Menghadapi kegagalan yang demikian nyata dan mahal, beberapa tokoh terkenal di Amerika Latin, termasuk mantan Presiden Brazil Fernando Herique Cardoso, Cesar Gaviria dari Colombia dan Ernesto Zedillo dari Meksiko menyerukan penghentian perang terhadap NAPZA dan pentingnya memikirkan jalan keluar lain.

Bulan lalu, Presiden Colombia yang konservatif, Juan Manuel Santos menyatakan, “Bila dunia memutuskan untuk melegalkan NAPZA, dan berfikir bahwa legalisasi adalah jalan untuk mengurangi kekerasan dan kejahatan, saya dapat menerima ide tersebut.”

Tetapi tidak ada tokoh yang lebih vokal dari mantan Presiden Meksiko, Vicente Fox, yang telah berulangkali menyerukan legalisasi untuksemua jenis NAPZA, mulai dari ganja, sebagai jalan keluar untuk menghentikan aksi para bandar NAPZA yang penuh kekerasan.

Sayangnya, pernyataan-pernyataan Fox yang mendebat kebijakan NAPZA terkini masih merupakan tabu bagi masyarakat AS. Sebuah universitas swasta di San Diego membatalkan undangan yang meminta Fox berbicara di kampus mereka karena dukungan Fox pada legalisasi NAPZA.

Sungguh menyedihkan, Calderon dan Obama tetap bersikukuh pada tabu yang sama. Walaupun masing-masing telah menyinggung legalisasi NAPZA sebagai topik yang patut diangkat ke panggung debat, mereka menolak untuk benar-benar memperdebatkan manfaatnya. Mereka membiarkan semua pilihan lain berlalu dan tetap mempertahankan kebijakan perang terhadap NAPZA yang telah gagal.

Kedua Presiden, dan warga kedua negara perlu memberanikan diri untuk keluar dari janji-janji keberhasilan perang terhadap NAPZA dan mulai menganalisa penyebab sebenarnya dari krisis Meksiko, serta menemukan solusinya.

Yang paling diperlukan adalah komitmen bilateral untuk mengadakan debat terbuka dan jujur membicarakan alternatif kebijakan pelarangan NAPZA. Terlalu banyak korban jiwa untuk terus menerus melewatkan peluang dialog ini. (aln/pez/prc)

*Daniel Robelo adalah peneliti yang bekerja pada Drug Policy Alliance di Berkeley, California.

Komentar

Iptek

  • steve_jobs_150_100

    Steve Jobs: Menggunakan LSD Adalah Salah Satu Hal Terbaik Yang Pernah Saya Lakukan

    Palo Alto – Kematian Steve Jobs, pendiri dan CEO Apple, telah menyentuh hati masyarakat dunia....

  • Sam-Nugraha2_150_100-150x100

    Samuel Nugraha: Kalahkan Adiksi, Pulihkan Martabat Pengguna NAPZA

    Bogor – Malam beranjak larut ketika NapzaIndonesia.com menemui Samuel Nugraha atau yang lebih akrab dipanggil...

  • arthur001

    Arthur, Mantan Pecandu Yang Sukses Menjadi General Manager

    Kuta – Sosok kita bulan ini adalah Arthur Stewart, lelaki asal Bandung yang saat ini...