Yvonne Aileen Sibuea*
Perilaku pengguna Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) di Indonesia yang menyuntikkan buprenorfin atau subutex**, ternyata juga marak dilakukan di Australia.
Para pengguna subutex di Frankston, Melbourne, misalnya melakukan aktifitas ini selain karena alasan ekonomi juga karena alasan psikologis.
Secara medis, penggunaan buprenorfin atau subutex ini seharusnya dilakukan secara sublingual atau diresapkan dibawah lidah. Namun hal ini jarang dipatuhi oleh klien pengguna buprenorfin.
Tidak disukainya metode sublingual ini, ternyata memicu kembali perilaku menyuntik dikalangan pengguna NAPZA di Frankston.
Perilaku menyuntikkan buprenorfin ini mengakibatkan terjadinya infeksi mikrobakterial pada vena serta mengakibatkan kelumpuhan serta kematian jika digunakan dalam jangka panjang.
Pada 2006 lalu, Burnet Institute, Melbourne melakukan penelitian tentang perilaku penyuntikkan buprenorfin di Frankston.
Dari hasil penelitian ini terungkap bahwa alasan utama para responden memilih buprenorfin adalah karena harganya yang lebih terjangkau dibandingkan heroin, serta tersedia secara tetap melalui apotik.
Alasan ekonomi ini diduga menjadi faktor utama populernya buprenorfin di Frankston yang pendapatan rata-rata penduduknya lebih rendah dari Melbourne.
Dalam laporan penelitian Burnet Institute ini, disebutkan juga bahwa responden yang melakukan penyuntikkan buprenorfin, ternyata telah mempengaruhi dan menurunkan kebutuhan mereka akan jenis NAPZA lainnya, serta terbukti mengurangi angka kriminalitas.
Burnet Institute juga melaporkan adanya stabilitas psikologi dalam memandang kehidupan dan perubahan persepsi diri dari seorang junkie menjadi anggota masyarakat yang berguna. Hal ini menunjukan adanya pengaruh cara pandang responden pengguna NAPZA suntik terhadap masa depan mereka.
Tidak disukainya metode sublingual pada penggunaan buprenofin atau subutex, ini terbukti menjadi salah satu alasan umum mengapa perilaku menyuntikkan subutex ini terus terjadi. Alasan lainnya adalah adanya keinginan untuk mendapatkan efek yang lebih cepat dari buprenorfin yang mereka gunakan.
Dalam laporan penelitian yang dilakukan Burnet Institute ini disebutkan bahwa responden menggambarkan diri mereka mengalami ketergantungan pada dua hal, yakni ketergantungan pada ritual menyuntik dan ketergantungan pada substansi buprenorfin itu sendiri. Adapun kedua hal ini saling berkaitan erat.
Dalam penelitian Burnet Institute ini juga disebutkan bahwa seluruh responden telah mengetahui dampak buruk dari perilaku menyuntikkan buprenorfin, yaitu kerusakan vena dan abses.
Buprenorfin tidak serta merta ditinggalkan mayoritas responden ketika mulai diperkenalkan substitusi opiat jenis lainnya yang bernama suboxone sebagai pengganti.
Para responden pengguna substitusi opiat ini mengaku tidak tahu secara jelas, apa perbedaan subutex (buprenorfin) dan suboxone (buprenorfin naloxone).
Kendati diperkenalkan pada suboxone yang juga digunakan secara subbilingual namun serta masih merasakan dorongan yang besar untuk menyuntikkan suboxone, yang apabila disuntikkan justru akan mengakibatkan gejala putus obat karena aktifnya naloxone dalam suboxone.
Di Frankston, rata-rata responden tidak menyukai saat resep mereka diganti menjadi suboxone tanpa sepengetahuan dan persetujuan mereka.
Fakta yang terungkap dari penelitian pada 2006 tersebut membuahkan kebijakan lokal untuk menyediakan filter buprenorfin pada pusat-pusat layanan Harm Reduction di Franskton, termasuk program Southern HIV, Hepatitis, Aids Resource and Prevention Service atau SHARPS yang diselenggarakan oleh Salvation Army atau Bala Keselamatan, sebuah lembaga sosial milik gereja.
SHARPS yang terletak di Ross Smith Ave, Frankston membuka layanan jarum suntik steril mulai dari jam 10.30 sampai jam 5.00 sore.
SHARPS menyediakan filter buprenorfin seharga 3 AUD yang berfungsi sebagai penyaring endapan kasar serta pembunuh bakteri. Filter buprenorfin jenis lain seharga 1.5 dan 1 AUD hanya berfungsi sebagai penyaring endapan.
Penyediaan filter buprenorfin ini sangat bermanfaat untuk mengurangi angka kerusakan vena pada pengguna buprenorfin suntik, karena pada saat dilakukan penyaringan, partikel-partikel kasar buprenorfin berhasil dipisahkan dari larutan buprenorfin yang akan disuntikkan.
Penanganan fenomena penyuntikkan buprenorfin di Indonesia memerlukan penelitian lebih dalam agar dapat ditemukan respon yang tepat untuk area-area tertentu.
Karena selama ini kasus penyuntikkan buprenorfin di Indonesia banyak dibicarakan secara meluas tanpa ada penanganan yang tepat untuk meredam dampak buruk penyalahgunaannya.(G)
*Aktifis pemerhati kebijakan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) yang saat ini sedang mengikuti Program Beasiswa Australian Leadership Award (ALA) dari The Nossal Institute for Global Health-Melbourne – The Australian Injecting and Illicit Drug User’s League (AIVL).
**substansi kimia yang digunakan sebagai terapi penganti heroin
Tags: ALA, buprenorfin, LSM, NAPZA
Palo Alto – Kematian Steve Jobs, pendiri dan CEO Apple, telah menyentuh hati masyarakat dunia....
Bogor – Malam beranjak larut ketika NapzaIndonesia.com menemui Samuel Nugraha atau yang lebih akrab dipanggil...
Kuta – Sosok kita bulan ini adalah Arthur Stewart, lelaki asal Bandung yang saat ini...