Presiden Felipe Calderon: Kebijakan NAPZA AS Kontradiktif

March 4th, 2011

Presiden Felipe Calderon Foto: stanford

Washington – Presiden Meksiko Felipe Calderon yang tiba di Washington hari Kamis (3/3) lalu sangat frustrasi pada AS karena alasan tertentu.

Selama empat tahun, pemimpin Meksiko yang pemberani ini telah mengobarkan perang terhadap bandar NAPZA yang mengancam menghancurkan aturan hukum di Meksiko yang berakibat jatuhnya korban ribuan jiwa dan puluhan miliar dolar.

Keberhasilan ‘Perang Terhadap NAPZA’ menjadi makin kabur ketika para penyelundup NAPZA justru menerima pasokan tetap senjata dan pendanaan dari AS. Kongres dan pemerintahan Obama telah gagal menunaikan janji kemitraan dengan Calderon dalam memberantas NAPZA.

Dalam sebuah pertemuan dengan editor dan jurnalis Washington Post, Calderon mengungkapkan beberapa kegagalan tersebut. Dalam empat tahun, Meksiko telah menyita 110 ribu pucuk senjata, termasuk lebih dari 50 ribu senapan, 11 ribu granat dan lebih dari 150 senapan jarak jauh berkekuatan tinggi, demikian juga 10 juta butir amunisi. 85% dari persenjataan ini telah diselundupkan dari AS, hal ini terjadi karena penolakan Kongres untuk melarang peredaran senjata rakitan dan kegagalan untuk mengawasi ribuan pedagang senjata di perbatasan AS-Meksiko.

Salah satu senjata selundupan yang dipamerkan disebuah pameran senjata di Texas, telah digunakan untuk membunuh agen khusus AS di Meksiko bulan lalu.

Sementara, permintaan NAPZA di AS meningkat, yang menurut Calderon adalah akibat “kontradiksi pada kebijakan publik AS.”  Mengenai legalisasi ganja di California, Calderon berkata bahwa Meksiko dapat menerima bahwa “pemerintah AS akan memberlakukan UU tersebut, atau memberanikan diri untuk melegalkan ganja. Tetapi Meksiko tidak dapat bertahan menghadapi kontradiksi ini.”

Kemudian, muncul asistensi AS pada Meksiko yang pertama kali diprakarsai oleh Presiden George W. Bush, senilai 1.3 miliar dolar AS untuk pelatihan dan peralatan, termasuk kapal patroli dan helikopter Black Hawk. Dana bantuan tersebut dicairkan dalam waktu 3 tahun.

Pada tahun keempat, Meksiko kembali menerima 500 juta dolar AS. Calderon bertanya-tanya tentang betapa cepatnya birokrasi Amerika dalam mencairkan dana tersebut dan seberapa mendesak kepentingan tersebut bagi AS.

Calderon tidak bermasuk menyalahkan siapapun. Ia dengan jujur mengakui kekurangan pemerintah Meksiko, termasuk kegagalan menyikapi masalah pencucian uang secara efektif dan berlanjutnya masalah-masalah dengan institusi kepolisian di dalam negeri yang banyak diantaranya telah disusupi oleh para pengedar NAPZA.

Ketika Presiden Calderon menggambarkan langkah AS sebagai “sangat tidak mencukupi”, ia mengatakan yang sebenarnya. “Ini bukan masalah kurangnya pendanaan,” ungkap Calderon. “Ini sebuah pertanyaan tentang tanggung jawab bersama. Sebuah masalah yang harus diatasi bersama antara AS dan Meksiko.”

Setelah bertemu Calderon di Gedung Putih, Presiden Obama dengan takzim mengakui pernyataan terakhir Calderon, dan seperti halnya Presiden Bush yang memerintah sebelum dirinya, Obama memuji keberanian Calderon. Obama mengatakan, pemerintahannya telah meningkatkan penuntutan pada para pedagang senjata.

Tetapi Obama belum memaksa Kongres untuk mengatur peredaran senjata dan dalam keadaan penuh tekanan Obama telah memtuskan untuk memperketat regulasi peredaran senjata. Hal ini hanya membutuhkan keberanian kecil bila dibandingkan upaya Calderon untuk menghalau kebijakan yang menghalangi perang terhadap bandar NAPZA. Calderon sudah sepantasnya kecewa terhadap AS.(wsp/prc)

Komentar

Iptek

  • steve_jobs_150_100

    Steve Jobs: Menggunakan LSD Adalah Salah Satu Hal Terbaik Yang Pernah Saya Lakukan

    Palo Alto – Kematian Steve Jobs, pendiri dan CEO Apple, telah menyentuh hati masyarakat dunia....

  • Sam-Nugraha2_150_100-150x100

    Samuel Nugraha: Kalahkan Adiksi, Pulihkan Martabat Pengguna NAPZA

    Bogor – Malam beranjak larut ketika NapzaIndonesia.com menemui Samuel Nugraha atau yang lebih akrab dipanggil...

  • arthur001

    Arthur, Mantan Pecandu Yang Sukses Menjadi General Manager

    Kuta – Sosok kita bulan ini adalah Arthur Stewart, lelaki asal Bandung yang saat ini...